Posted by : Annisa Nur PS Jumat, 14 November 2014

Sekali lagi, abai.
Ingin rasanya aku menutup telinga dengan rapat-rapat.
Tapi, apa pedulinya aku?
Mereka bagian dari hidupku.
Mereka belahan jiwaku.
Separuh hati kurelakan untuk mereka. Separuhnya lagi kemana?
---
Seusai sembahyang, kutunggu panggilan.
Namun, Dia memberikanku cobaan yang tak terkira.
Sama saja, tak bisa fokus.
Terbayang akan keinginan itu lagi.
Dasar emang manusia!
---
Sadar.
Ku sadari aku belumlah seutuhnya rela.
Bukan berarti aku munafik.
Inilah perasaanku saat ini.
---
Kuingin bersama mereka dalam kebahagiaan.
Bukan dalam ketakutan.
Bukan dalam kecemburuan.
Bukan dalam kebencian.
---
Maafkan aku yang terlalu memaksa keadaan.
Maafkan jika ada hati yang terluka.
Maafkan jika raga ini belum sepantasnya layaknya kalian.
Maaf dan maaf hanya itu yang kubisa.
---
Relation.
Hubungan.
Kekerabatan.
Keakraban.
Tolonglah diimbangi dengan keadaan.
Aku butuk kalian. Akankah berbalik pula?
---
Sengaja ku besarkan volume.
Aku tak ingin rasa cemburu itu menyelimuti kembali.
Tak ingin terluka masalah sepele.
Sudah cukup saat dulu kala yang jauh oleh hari.
Cukup terluka jika kau menyadarinya.
---
Tak ingin membenci mereka.
Tak ingin mengumpat lebih dalam.
Tak ingin melukai hati mereka.
Tak ingin rasa sesal ini diketahuinya.
---
Ku dengar lirih suaranya.
Apa yang harus kulakukan?
Apa aku harus malu?
Apa aku harus marah?
Apa aku harus BENCI?
---
TIDAAAAK.
Yakinlah, semua akan berakhir dengan indah.
Demi kebersamaan yang tinggal sejengkal.
Jangan merasa diremahkan.
---
Berdoa untuk kesuksesan kita.
Yakinlah pula, kita akan dipertemukan.
Entah dimana? Di surga nanti pastinya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

- Copyright © Mampukah kita melintasi dahsyatnya badai kehidupan? - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -